Terapi Okupasi, my passion

Hai gaes! Ini tulisan pertamaku, hope you enjoy to read my experience

Kali ini aku akan bercerita sedikit mengenai disiplin ilmu yang sedang ku pelajari. Ya, aku seorang mahasiswi di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta prodi D-IV Terapi Okupasi. Mungkin dari kalian masih banyak yang asing dengan prodi yang satu ini. So, kenalan dulu yuk dengan Terapi Okupasi.

Terapis Okupasi adalah profesi kesehatan yang memberikan terapi pada individu atau kelompok yang mengalami gangguan sementara atau permanen pada fisik, mental dan atau sosial sehingga yang bersangkutan mampu melakukan aktivitas sehari-hari yang sebelumnya tidak bisa dilakukannya seorang diri. Entah itu untuk melakukan perawatan diri (makan, mandi, dan berpakaian), pengembangan diri (membaca, berhitung, maupun bersosialisasi), latihan fisik (melatih gerakan sendi, kekuatan otot, dan kelenturan), menggunakan alat bantu, serta kegiatan lainnya. Melalui terapi ini, pengidap dapat menjalani kesehariannya dengan mandiri. (Ikatan Okupasi Terapi Indonesia, 1994)

Selama belajar disiplin ilmu ini, aku belajar mengenai aspek dari aktivitas sehari hari secara holistik. Dari pengetahuan ilmu anatomi dasar dan fisiologi makhluk hidup,  rehabilitasi medik, ilmu kedokteran dasar seperti patologi dan farmakologi, kesehatan jiwa sampai dengan kemampuan komunikasi. Tak hanya itu di setiap tahun yaitu semester genap, kami selalu melaksanakan praktik klinik, terjun langsung ke lapangan kerja. Semuanya bertujuan agar saat menjadi terapis nanti kami berkompeten dalam menjalankan peranan sebagai terapis okupasi.

Lalu, untuk siapa terapi ini ditujukan?

Terapis okupasi, secara utuh berperan di berbagai area yaitu, pediatri (tumbuh kembang anak), fisik dewasa, psikososial, dan geriyatri (lanjut usia). Di area pediatri kasus yang sering kami temui adalah anak dengan kondisi autisme, ADHD, Cerebral Pasly, Intelectual Disability, dan masih banyak lagi. Fisik dewasa kami sering menangani kasus pasien dengan kondisi stroke, patah tulang, paska kecelakaan, penyakit dalam dan bedah, dan lain lain. Psikososial merupakan ranah kesehatan mental atau jiwa berbagai diagnosis kondisi pasien yang kami temui yaitu skizofrenia, bipolar, depresi dan lain lain. Lalu yang terakhir geriyatri atau lanjut usia.

Kami terapis okupasi nantinya akan membantu merancang tujuan terapi yang menembak prioritas masalah pada keseharian pasien. Terapi yang akan kami berikan berbasis aktivitas sehari hari. Di dalam konsep terapi okupasi kami mempelajari domain dari aktivitas sehari hari yaitu:

1.       Activities of daily living (ADL), bahasa awamnya adalah kemampuan merawat diri sendiri seperti makan, mandi, berpakaian, dll.

2.      Instrumental activities of daily living (IADL), ini adalah aktivitas yang melibatkan objek lain atau orang lain sesuai dengan peran pasien tersebut, misalnya membersihkan rumah, merawat anak, merawat taman dll.

3.      Sleep and rest, berkaitan dengan kualitas tidur dan beristirahat

4.     Work, pekerjaan atau produktivitas

5.      Education, berkaitan dengan pembelajaran.

6.     Play, pemanfaatan waktu luang tetapi erat kaitannya dengan kompetisi bersaing dengan intividu yang lain.

7.      Leisure, pemanfaatan waktu luang bisa juga melakukan hobi

8.     Social participation, kemampuan pasien tersebut berpatisipasi dalam lingkungan sosialnya.

Nah, jika ada individu yang mengeluhkan adanya gangguan pada 8 domain tersebut terapis okupasi akan berperan untuk menjadikan individu tersebut menjadi lebih baik.

Dimana si, kamu bisa menemui terapis okupasi?

Terapis okupasi bekerja pada bidang kesehatan tahap rehabilitasi. Kalian bisa menemuinya di rumah sakit umum, rumah sakit ortopedi, rumah sakit jiwa, klinik tumbuh kembang anak, klinik stroke, yayasan panti jompo, sekolah luar biasa, dan yayasan yayasan yang membutuhkan TO.

Nah bagaimana ini? Sudah kenal kan dengan Terapi Okupasi?

Sedikit pengalamanku mengenai jurusan ini. Its wonderfull! throwback saat aku berada di bangku SMA kelas 12. Masa dimana banyak dari kalian bingung ingin melanjutkan sekolah dimana atau ingin bekerja dimana. Singkat cerita aku tidak sengaja berada disini, aku tidak tahu sama sekali apa itu Terapi Okupasi. Punya impian bekerja di bidang kesehatan saja tidak ada, apalagi berkuliah di bidang tersebut. Tetapi aku diarahkan oleh orang tuaku. Setelah aku belajar 4 semester aku baru menyadari, untuk kamu yang ingin mendapat kerja cepat dan pekerjaan tersebut sangat mulia serta bermanfaat yha di sini. Terapi Okupasi jawabannya. Kenapa?

Merujuk pada data BAN-PT dan LAM-PTkes, pada 2019 hanya ada 2 perguruan tinggi yang secara khusus menyelenggarakan pendidikan Okupasi Terapi yaitu Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta dan Universitas Indonesia. Jadi dikutip dari hellosehat.com, di Indonesia, tidak semua rumah sakit menyediakan terapi okupasi karena jumlah tenaga ahli yang mampu memberikan pelayanan ini masih terbatas. Sehingga membuat profesi ini masih sangat dicari lho. Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, data tahun 2018 menunjukan kalau 100% lulusan jurusan terapi okupasi terserap di dunia kerja.

Oke sekian tentangku hari ini. Jangan lupa tinggalkan jejakmu di kolom komentar

See yaa, on the next post! 

Thank you

Komentar